Rihlah Kelompok 15 PKL Ansor Mojokerto Angkat Tema Budaya dan Agama

Mojokerto, posdewan.com – Kelompok 15 peserta Pelatihan Kepimpinan Lanjutan (PKL) – 2 dari PC GP Ansor Mojokerto telah melakukan kegiatan rihlah yang mengangkat tema “Harmoni Budaya dan Agama” pada Minggu (29/12). Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman keagamaan Islam dan nilai budaya yang dianut oleh warga lokal sekitar, khususnya pada Padepokan dengan nama Yayasan Reksoati Caktya Jati Kebo, yang dipimpin oleh KHAS Wiro Wongso negoro atau yang biasa dipanggil warga desa dengan Ki Kadek.

Rihlah ini dilakukan di Padepokan tersebut yang berlokasi di Desa Sumbergirang, Puri Kab. Mojokerto. Kelompok Padepokan tersebut dinamai Tlasih 87 artinya Bunga Kemangi yang bermakna sebagai obat penyembuh, sedangkan 87 bermakna ajaran yang diajarkan.

Dalam ajaran yang di dakwahkan kelompok Tlasih 87 menjadi simbol perpaduan budaya dan agama. Selama menelusuran lapangan, adanya kelompok Tlasih 87 memang menjadi dilematis ditebgah-tengah masyarakat. Ada yang mendukung, menolak bahkan ada yang mengabaikan atau memilih netral.
Sebagaimana yang disampaikan oleh ketua Ranting NU Sumbergirang bahwa selama tidak mengganggu masyarakat, maka kami biarkan saja. Meskipun banyak dari masyarakat kurang setuju dengan praktek ajarannya. Ujar bpk H. Ali.

Ketua Kelompok 15 PKL Ansor Mojokerto, berpendapat bahwa kegiatan rihlah ini tidak hanya menjadi bentuk wujud peduli antar sesama ummat, tetapi juga pemahaman kondisi sosial dan refleksi spiritual antara budaya dengan agama.

“Kami ingin memperlihatkan bagaimana budaya dan agama dapat berjalan berdampingan, saling menguatkan, bukan saling bertentangan. Ini penting untuk generasi muda, terutama kader-kader Ansor, agar lebih memahami sejarah dan identitas lokal,” ujar Rezi Ketua Kelompok 15.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat setempat. Harapannya, kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk membangun generasi muda yang tidak hanya berpengetahuan luas, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap budaya dan agama.

Rihlah ini ditutup dengan doa bersama dan refleksi kelompok di bawah naungan suasana damai khas pedesaan Mojokerto. Acara ini memberikan pengalaman berharga bagi peserta dalam memahami hubungan erat antara budaya, agama, dan kehidupan sehari-hari.

Mungkin Anda Menyukai